Banda Aceh, 18 April 2026 – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya peran arsitektur dalam menjawab tantangan daerah rawan bencana melalui penerapan standar global yang adaptif dan kontekstual. Untuk itu, Menteri Ekraf menilai penguatan subsektor arsitektur sebagai bagian penting dari ekonomi kreatif sangat penting dalam memberikan kontribusi pada ketangguhan nasional dalam menghadapi bencana.
“Kegiatan hari ini merupakan langkah yang sangat penting, karena melibatkan standar arsitektur dunia untuk wilayah yang rentan terhadap bencana. Pelaksanaan di Aceh memberikan nilai yang sangat berharga dan manfaat besar bagi kita semua. Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mendukung subsektor arsitektur perlu terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, asosiasi, media, serta pelaku usaha agar berbagai tantangan yang dihadapi dapat kita jawab bersama,” ujar Menteri Ekraf saat melakukan audiensi bersama perwakilan asosiasi arsitek di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh pada Jumat (18/4).
Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) International Conference on Natural & Human Disasters 2026 yang bertujuan menyerap aspirasi pelaku ekonomi kreatif sekaligus menjajaki peluang kolaborasi lintas sektor. Lebih lanjut, ia menekankan komitmen Kementerian Ekraf dalam memperkuat komunikasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi yang menaungi arsitek di berbagai daerah.
“Kami di Kementerian Ekraf akan terus berkomunikasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai salah satu asosiasi yang telah lama berperan dan mengayomi para arsitek Indonesia dengan 36 chapter di seluruh wilayah. Dalam waktu dekat, kami juga akan kembali berdiskusi untuk mendengarkan berbagai masukan terkait usulan dan tantangan dalam ekosistem arsitektur nasional,” tambahnya.
Head of Region 4 Asia and Oseania International Union Of Architecs (UIA) Natural Human Disaster Program, Aimee Roslan, menekankan pentingnya pendekatan hexahelix dalam membangun hubungan yang saling menguatkan antar pemangku kepentingan.
“Kami siap berkolaborasi mulai dari pembentukan Nota Kesepahaman (MoU), menghadirkan program Creative Resilience Lab, hingga program desain rekonstruksi pascabencana. UIA dapat memberikan dukungan berupa transfer teknologi, mengingat jaringan global kami mencakup 170 negara anggota. Keterlibatan ahli lokal juga menjadi kunci agar pembangunan selaras dengan nilai budaya Indonesia,” jelasnya.
Audiensi ini turut dihadiri Direktur Arcadian Emergency Architect Tony Wang, Presiden Ikatan Arsitek Indonesia George Budi, Managing Director Architects Without Frontiers Esther Charlesworth, Disaster Preparedness and Prevention Centre Malaysia-Japan Institute of Technology Kamaruddin Azhari Razak, serta UIA Architecture for All Work Program wilayah Asia dan Oseania Norwina Muhammad Nawawi.
Sementara itu Menteri Ekraf didampingi oleh Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Rian Firmansyah, Pelaksana Tugas Kepala Biro Umum Indra Saputra Farhas, serta Direktur Arsitektur dan Desain Sabar Norma Megawati Panjaitan.*(sumber:ekraf.go.id)


















