Menjalin Usaha Bersama

logo

Kementerian Ekraf Tegaskan Peran Arsitektur dalam Mitigasi Bencana di Forum DR3

Minggu, 19 April 2026

Banda Aceh, 17 April 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) hadir dalam International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026 bertema Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3). Forum arsitektur internasional ini mengangkat isu strategis terkait peran desain dalam menghadapi ancaman bencana alam serta proses rekonstruksi pascabencana.

Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa kehadiran pemerintah dalam forum ini merupakan bentuk komitmen mendorong inovasi serta karya berkualitas tinggi di bidang arsitektur sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.

“Kementerian ini dibentuk untuk mengorkestrasi di antara 17 subsektor, salah satunya adalah arsitektur. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, kami meyakini bahwa industri arsitektur akan terus berkembang. Pada 2024, subsektor arsitektur menyerap sekitar 61.442 tenaga kerja dengan nilai PDB mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS serta total investasi sekitar 22 juta dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa para arsitek di Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian nasional,” ujarnya, Jumat (17/4).

Kegiatan yang bertempat di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh tersebut menjadi forum global untuk membahas pengurangan risiko, penguatan ketangguhan, serta pemulihan berbasis pendekatan arsitektural. Konferensi ini juga menandai penyelenggaraan perdana agenda Union Internationale des Architectes (UIA) di Indonesia sejak organisasi tersebut berdiri pada 1948.

Lebih lanjut, Menteri Ekraf menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Menurutnya, peran arsitektur bertransformasi tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional.

“Kami terus berkolaborasi dengan hexahelix untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk kemitraan dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) sebagai organisasi profesi arsitektur di Indonesia. Arsitektur juga kini bertransformasi dari seni merancang menjadi ilmu tentang keberlangsungan hidup. Melalui inovasi desain, arsitek dapat mengubah ‘bahaya’ menjadi ‘risiko yang terkelola’. Kementerian Ekraf mendukung upaya penanggulangan bencana yang dipimpin oleh para pelaku ekonomi kreatif, karena mereka merupakan bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional,” tambahnya.

Banda Aceh ditunjuk sebagai tuan rumah tanpa proses bidding. Keputusan ini mempertimbangkan posisi Aceh sebagai contoh nyata praktik ketangguhan dan pembangunan

Executive Chair & Convenor of the UIA Natural and Human Disasters Work Programme Region IV, Aimee Roslan, memperkenalkan bahwa International Union of Architects (UIA) atau Persatuan Arsitek Internasional merupakan organisasi badan dunia bagi para arsitek. Saat ini, UIA memiliki 117 seksi anggota yang tersebar di 125 negara, dengan sekitar 700.000 arsitek yang terdaftar di seluruh dunia.

“Ini merupakan acara UIA pertama yang diselenggarakan di Republik Indonesia, tepatnya di Banda Aceh, kota dengan yang dikenal dengan ketangguhannya. Menjadi tanggung jawab yang bermakna untuk menjadi tuan rumah konferensi ini di Banda Aceh, Indonesia. Kota ini merupakan bukti nyata ketangguhan sekaligus laboratorium hidup dalam menghadapi dan beradaptasi terhadap bencana alam maupun kemanusiaan.”

“Dalam konteks inilah kita berkumpul. Banda Aceh adalah kandidat yang tepat untuk menjadi tuan rumah DR3 Aceh 2026, karena menunjukkan bagaimana membangun kembali dengan lebih baik, 21 tahun setelah dilanda salah satu bencana alam terbesar di abad ke-21, serta kemampuannya dalam beradaptasi terhadap bencana,” ungkapnya.

Melalui partisipasi dalam forum ini, Kementerian Ekraf menegaskan dukungannya terhadap penguatan peran arsitektur sebagai salah satu subsektor strategis yang mampu berkontribusi pada ketahanan ekonomi sekaligus menjawab tantangan global terkait bencana.

Turut hadri dalam konfrensi tersebut Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal; Direktur Arcasia Emergency Architects, Tony Wong; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Zulfadhli; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh, Irwansyah; President of the Indonesian Institute of Architects, Georgius Budi Yulianto; Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Aceh, Said Husain; serta Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Marlina Usman;

Menteri Ekraf didampingi oleh Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Rian Firmansyah dan Direktur Arsitektur dan Desain Grafis, Sabar Norma Megawati Pandjaitan.*(sumber:ekraf.go.id)

error: Content is protected !!