Menjalin Usaha Bersama

logo

“Wot Batu” Karya Instalasi Luar Ruang yang Penuh Makna Kehidupan

Kamis, 16 April 2026

INDONESIA – Siang itu di kawasan perbukitan Bandung, tepatnya di Ciburial, Cimenyan, berdiri ruang seni yang tidak sekadar menghadirkan keindahan visual, tetapi juga mengajak pengunjung menyelami makna kehidupan. Wot Batu merupakan karya seni instalasi luar ruang yang digagas Sunaryo, seniman kelahiran Banyumas tahun 1943.

Secara etimologis, “wot” berasal dari bahasa Jawa yang berarti jembatan. Wot Batu, dengan demikian, dimaknai sebagai “jembatan batu” sebuah metafora tentang ruang penghubung antara manusia, kehidupan, dan alam. Namun, jembatan ini bukan hanya struktur fisik, melainkan simbol perjalanan manusia dari kefanaan menuju pemaknaan yang lebih dalam.

Di dalam kawasan ini, terdapat 135 batu yang ditanam dan ditata. Bebatuan tersebut berasal dari gunung-gunung di Pulau Jawa, dengan karakter vulkanik yang kuat pipih, bulat, lonjong hingga berbentuk tiang yang menjulang. Keseluruhan susunan ini tidak hadir secara kebetulan, melainkan membentuk ruang simbolis yang sarat pesan.

Sebagai seniman, Sunaryo merupakan lulusan seni patung Institut Teknologi Bandung yang kemudian memperdalam teknik pahat marmer di Carrara, Italia. Karya-karyanya telah tersebar luas, mulai dari Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Bandung, patung Jenderal Sudirman di Jakarta, hingga Bilah Nusantara kuali Asian Games 2018 di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Selain patung, ia juga dikenal melalui karya lukisan, instalasi, dan grafis, bahkan lima karya cetaknya masuk dalam The Contemporary Prints of the World (1989), sejajar dengan seniman dunia seperti Joan Miró dan Paul Klee.

Perjalanan Simbolik dalam 135 Batu

Di tengah rintik hujan, tampak para pengunjung bergerak perlahan di antara instalasi batu. Mereka berlindung di bawah payung-payung hitam yang legam, menciptakan kontras yang dramatis terhadap kelabu langit dan pucatnya bebatuan.

Di sana, Galuh, pemandu kita, berdiri sebagai penenun cerita. Suaranya yang tenang membelah suara hujan, menjelaskan satu demi satu rahasia yang terkunci di balik rupa-rupa batu tersebut. Payung hitam itu seolah menjadi simbol perlindungan diri manusia yang rapuh di hadapan alam yang megah.

Perjalanan di Wot Batu dimulai dari gerbang batu bertuliskan “wilujeng sumping” yang menjulang sebagai penanda awal memasuki ruang perenungan. Dari sana, pengunjung diarahkan menuju Batu Abah Ambu. Dalam bahasa Sunda, “abah” dan “ambu” berarti bapak dan ibu.

Instalasi ini awalnya disusun secara intuitif oleh Sunaryo, menghadirkan harmoni vertikal dan horizontal di dekat sebuah pohon. Tanpa direncanakan, komposisi tersebut memunculkan konsep tentang maskulinitas dan femininitas, yang dalam agama Hindu dikenal sebagai konsep Lingga dan Yoni. Menariknya, batu-batu tersebut diketahui berasal dari Bali dan India dua wilayah yang memiliki keterkaitan kuat dengan konsep tersebut.

Di sisi kiri Batu Abah Ambu, terdapat Batu Merenung yaitu ruang hening yang mengajak pengunjung berhenti sejenak, merefleksikan diri di tengah lanskap yang sunyi. Perjalanan berlanjut menuju instalasi “antara langit dan bumi”, di mana batu disusun secara vertikal sebagai representasi langit dan horizontal sebagai simbol bumi menggambarkan dua jagat yang saling terhubung.

Memasuki area yang dikenal sebagai Panggung Kehidupan, pengunjung akan menemukan tiga instalasi utama: Batu Indung, Batu Mandala, dan Batu Parahu. Batu Indung, yang dalam bahasa Sunda berarti ibu, merepresentasikan fase kelahiran. Instalasi ini memadukan batu vulkanik dengan bentuk pohon jambu dari perunggu sebuah penghormatan personal Sunaryo kepada ibunya.

Pohon tersebut diangkat dari kenangan tentang harapan sederhana yang tak sempat terwujud, menjadikan karya ini bukan sekadar simbol awal kehidupan, tetapi juga pengingat akan sosok ibu. Rasa jambu hadir pada welcome drink yang disuguhkan kepada pengunjung.

Sementara itu, Batu Mandala berbentuk lempengan dengan ukiran lingkaran di tengahnya, melambangkan dinamika kehidupan manusia dan semesta. Batu Parahu merepresentasikan perjalanan hidup, mengarah menuju Batu Air simbol dimensi lain setelah kehidupan di dunia. Di antara keduanya terdapat Lawang Batu, sebagai batas antara dua dimensi: kehidupan dan keabadian.

Menurut penjelasan Galuh, salah satu pemandu, Lawang Batu menjadi simbol bahwa Wot Batu adalah “temuan” dari abad ke-21 yang akan dibaca oleh masa depan. Di atasnya terdapat pahatan sidik jari Sunaryo yaitu jempol kiri dan kanan sebagai penanda jejak peradaban modern.

Batu Air sendiri menjadi salah satu titik yang paling diminati pengunjung. Selain sering digunakan sebagai lokasi prosesi pernikahan, instalasi ini menggambarkan luasnya alam semesta atau alam baka.

Kolam yang terbuka pada lanskap tanpa batas menciptakan kesan tak berujung, merepresentasikan ruang setelah kehidupan. Menariknya, susunan batu di area ini tidak dirancang dengan makna khusus, melainkan murni hasil eksplorasi estetika.

Perjalanan berlanjut ke Batu Angin, Batu Air, Batu Api, hingga Batu Ruang sebuah ruang bawah tanah yang diakses melalui tangga, menghadirkan pengalaman berbeda dengan narasi tentang terbentuknya bumi. Kemudian terdapat Batu Sapuluh, berupa sepuluh batu yang disusun bertumpuk.

Galuh menjelaskan, “Batu Sapuluh menampilkan keseimbangan antara apa yang kita perbuat selama hidup di dunia dengan bagaimana hubungan kita dengan Sang Pencipta. Hal ini digambarkan melalui tumpukan batu.

Susunan ke bawah mencerminkan adanya gravitasi dan hukum fisika, sementara susunan ke atas melambangkan bagaimana semua itu terjadi atas izin Tuhan, sehingga batu-batu ini dapat berdiri dan menumpuk dengan seimbang.”

Perjalanan instalasi terakhir dari Wot Batu yaitu Batu Waktu yang memuat pesan filosofis: “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke” ada masa lalu, ada masa kini; tanpa masa lalu, tidak ada masa kini.

Galuh menjelaskan filosofi Batu Waktu sebagai gambaran bahwa hidup akan selalu berjalan secara berkesinambungan. Ia menuturkan bahwa waktu terus bergerak dan saling terhubung, sebagaimana divisualisasikan melalui roda kinetik di dalam instalasi tersebut.

Pergerakan roda ini melambangkan bahwa setiap momen dalam kehidupan saling berkaitan, membentuk kehadiran manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Pada instalasi ini, Sunaryo bahkan menyematkan mesin jam sebagai simbol perjalanan waktu itu sendiri.

“Batu Waktu memiliki hubungan dengan batu ruang yang tadi ada di bawah tanah, yang menampilkan bagaimana semua dimulai sedangkan batu waktu menampilkan bagaimana semua berjalan, karena ruang memberikan kita tempat dan waktu memberikan kita latar kejadian.” tutur Galuh.

Selain menghadirkan pengalaman artistik lewat instalasi luar ruang, Wot Batu juga menawarkan berbagai cinderamata seperti kaos, tea series, scarf, buku seri Sunaryo hingga buku untuk journaling. Di area yang sama, terdapat Kopi Bale Batu yang menghadirkan berbagai macam kuliner seperti Bakso Tahu Goreng serta aneka macam minuman yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

Wot Batu bukan sekadar taman batu. Ia adalah ruang refleksi, di mana setiap elemen mengandung lapisan makna. Batu-batu yang tampak diam justru berbicara tentang kehidupan tentang asal-usul, perjalanan, batas, hingga waktu. Melalui susunan yang intuitif sekaligus simbolis, Sunaryo menghadirkan sebuah pengalaman yang mengajak pengunjung untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan memaknai.

Karya-karya dari Sunaryo tidak hanya menjadi representasi ekspresi artistik, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia yang saling terhubung memadukan subsektor seni rupa, kriya, fashion, hingga kuliner dalam satu ruang apresiasi yang utuh.*(sumber:ekraf.go.id)

error: Content is protected !!