Jakarta, 6 Mei 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekonomi kreatif yang inklusif melalui pendekatan berbasis keluarga. Hal ini mengemuka dalam audiensi Wakil Menteri Ekraf, Irene Umar, dengan Perkumpulan Orang Tua Anak Disabilitas Indonesia (PORTADIN) di Autograph Tower, Jakarta, Rabu (6/5).
Dalam pertemuan tersebut, Wamen Ekraf menyoroti pentingnya keberlanjutan hasil karya pegiat ekraf disabilitas agar tidak berhenti pada tahap produksi.
Irene menambahkan, Kementerian Ekraf siap berperan dalam memperluas distribusi dan pemasaran produk agar pegiat ekraf disabilitas mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Fokus kami adalah membantu dari sisi distribusi dan marketing, supaya produk yang sudah siap bisa dikenal lebih luas dan tetap berlanjut setelah event selesai,” ujar Irene Umar.
Kementerian Ekraf juga membuka peluang partisipasi pegiat ekraf disabilitas dalam berbagai event ekonomi kreatif yang melibatkan sektor swasta maupun pemerintah. Keterlibatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk melalui proses kurasi sekaligus memperluas jejaring pasar.
“Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, pelaku ekraf bisa belajar menghadapi kurasi yang lebih ketat sehingga kualitas produknya meningkat dan mampu bersaing,” kata Irene Umar.
Wamen Ekraf berpesan, keluarga memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi kreatif bagi disabilitas. Mengingat, mayoritas anggota PORTADIN merupakan penyandang disabilitas intelektual yang membutuhkan pendampingan intensif.
“Pendamping terdekat adalah orang tua. Ketika orang tua memiliki pemahaman dan keterampilan yang tepat, dampaknya akan langsung dirasakan oleh anak,” ujar Irene Umar.
Koordinator Pemberdayaan Keluarga PORTADIN, Desyana menjelaskan bahwa organisasi ini berfokus pada pemberdayaan keluarga melalui pengembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif. Produk yang dihasilkan mencakup fesyen, kriya, kuliner, hingga karya seni visual yang melibatkan anggota komunitas.
PORTADIN menilai tantangan terbesar ada pada hilirisasi produk, terutama pengemasan dan akses pasar. Dukungan Kementerian Ekraf diharapkan mampu menghubungkan proses pelatihan hingga produk siap dipasarkan secara berkelanjutan.
“Kami membutuhkan dukungan untuk menghubungkan proses dari pelatihan hingga pemasaran, agar produk yang dihasilkan bisa berkelanjutan di pasar,” ujar Desyana.
Menanggi hal itu, Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekraf, Iman Santoso, menyampaikan, penguatan kapasitas dapat dilakukan melalui pendekatan praktis, seperti pelatihan fotografi produk dan penyusunan narasi. Pendekatan ini dinilai efektif untuk meningkatkan daya tarik produk tanpa memerlukan metode yang kompleks.
“Visual dan cerita menjadi elemen penting dalam meningkatkan daya tarik produk. Dengan teknik sederhana, pelaku usaha sudah bisa memperkuat nilai jualnya,” jelas Iman Santoso.
Pemanfaatan teknologi turut menjadi fokus pembahasan, khususnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pembuatan konten promosi. Pendekatan ini dinilai dapat membantu pegiat ekraf, termasuk penyandang disabilitas, dalam menyampaikan cerita di balik produk secara lebih menarik.
Audiensi ini menghasilkan sejumlah tindak lanjut, antara lain pemetaan potensi anggota, penguatan kapasitas keluarga, serta fasilitasi akses ke berbagai platform promosi. Kementerian Ekraf menegaskan komitmennya untuk terus mendorong ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru yang inklusif dan berkelanjutan.*(sumber:ekraf.go.id)


















