INDONESIA – Tangan Erika Richardo begitu luwes saat menggoreskan cat berwarna pink di badan kereta milik PT Kereta Api Indonesia. Satu per satu warna lain menunggu giliran, seolah siap mengikuti arah imajinasi yang ia tuangkan di badan gerbong restorasi. Hari itu, Erika mendapat kesempatan melukis di kereta untuk memeriahkan Hari Kartini.
Ini bukan kali pertama bagi seniman yang juga dikenal sebagai konten kreator tersebut menjajal media tak biasa. Sebelumnya, Erika pernah melukis di berbagai medium unik, mulai dari pesawat hingga mobil balap.
Sejak kecil, Erika memang telah menyimpan mimpi besar, melukis di media berukuran raksasa, salah satunya pesawat. Baginya, ada kebanggaan tersendiri ketika karya seni bisa “terbang” tinggi dan dilihat banyak orang dari berbagai tempat. Mimpi itu tak berhenti sebagai angan. Ia terus mengasah kemampuan hingga akhirnya mendapat kesempatan melukis livery pesawat Boeing 737-800NG milik Garuda Indonesia.
“Aku happy banget bisa melukis di pesawat, karena itu merupakan mimpi aku dari kecil, enggak kebayang hingga akhirnya bisa kejadian. Dulu yang aku pikirkan sebagai anak kecil, yaitu pengen sekali suatu hari punya lukisan di atas pesawat, bisa terbang dan dibawah. Jadi aku seneng banget saat berhasil, aku berhasil buktiin kalau mimpi kita tuh bisa terwujud asalkan berusaha dari yang kecil,” ujarnya saat berbincang.
Perjalanan Erika Richardo menuju titik ini bukan tanpa hambatan. Kebiasaannya melukis di medium berukuran besar menuntutnya terus berlatih dan beradaptasi. Bahkan ketika kemampuannya sudah terasah, ia masih harus menunggu hingga tiga tahun untuk mendapatkan persetujuan dari Garuda Indonesia.
“Sebenarnya dari awal aku sudah mulai melukis di media yang enggak biasa, seperti mobil. Awalnya bahkan pinjam mobil teman untuk dilukis. Dari situ aku mulai berani menghubungi showroom untuk mencoba melukis di mobil lain. Sampai akhirnya aku juga memberanikan diri mengajukan untuk melukis di pesawat. Tapi prosesnya enggak instan, butuh waktu tiga tahun sampai akhirnya disetujui. Setelah itu, justru banyak sekali peluang yang terbuka,” jelasnya.
Melukis di medium besar juga membawa tantangan tersendiri, terutama dari sisi fisik dan waktu. Proses yang idealnya bisa berlangsung satu hingga dua minggu, kerap harus dipadatkan hanya dalam dua sampai tiga hari karena menyesuaikan dengan jadwal operasional.
“Selain harus memikirkan waktu, kita juga harus kerja sama dengan banyak pihak. Secara fisik juga lebih menantang, karena melukisnya bukan seperti di rumah yang santai. Di sini butuh tenaga ekstra,” ujarnya.
Di tengah perjalanan kariernya, Erika juga memilih aktif di media sosial sebuah langkah yang bagi sebagian seniman mungkin tidak lazim, mengingat karya seni sering kali identik dengan ruang galeri.
Menurutnya, media sosial justru membuka akses yang lebih luas. Ia ingin seni bisa dinikmati siapa saja, tanpa batas ruang dan waktu. Melalui platform digital, Erika berupaya menunjukkan bahwa seni tidak harus terbatas pada kanvas atau kertas, melainkan bisa hadir di berbagai medium di sekitar kehidupan sehari-hari.
“Tujuan aku dari awal adalah ingin membuat anak-anak Indonesia lebih melek seni. Bahwa seni itu ada di mana-mana, bisa di meja, di tembok, atau di benda sekitar. Jadi enggak terbatas hanya di kanvas. Lewat media sosial, jangkauannya juga lebih luas dibanding galeri yang mengharuskan orang datang langsung,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Erika pun membagikan pesan untuk generasi muda yang kini tumbuh di tengah derasnya arus konten digital.
Menurutnya, kunci utama adalah tetap fokus pada tujuan. Di tengah banyaknya distraksi, penting bagi anak muda untuk memahami apa yang ingin dicapai dan terus mengembangkannya tanpa terlalu terpengaruh oleh sekitar.
“Fokus saja pada tujuan yang ingin kamu capai. Tekuni apa yang kamu punya dan jangan terlalu melihat ke kanan kiri. Karena pada akhirnya, kamu sendiri yang paling tahu seperti apa jalan ke depan,” pesannya.*(sumber:ekraf.go.id)


















